Sunday, March 13, 2016

Knowledge of Language

Knowledge of Language
 
When two or more people communicate with each other in speech, we can call the system of communication that they employ a code. In most cases that code will be something we may also want to call a language. We should also note that two speakers who are bilingual, that is, who have access to two codes, and who for one reason or another shift back and forth between the two languages as they converse by code-switching (see chapter 4) are actually using a third code, one which draws on those two languages. The system (or the grammar, to use a well-known technical term) is something that each speaker ‘knows,’ but two very important issues for linguists are just what that knowledge is knowledge of and how it may best be characterized.
            In practice, linguists do not find it at all easy to write grammars because the knowledge that people have of the languages they speak is extremely hard to describe. It is certainly something different from, and is much more considerable than, the kinds of knowledge we see described in most of the grammars we find on library shelves, no matter how good those grammars may be. Anyone who
knows a language knows much more about that language than is contained in any grammar book that attempts to describe the language. What is also interesting is that this knowledge is both something which every individual who speaks the language possesses (since we must assume that each individual knows the grammar of his or her language by the simple reason that he or she readily uses that language) and also some kind of shared knowledge, that is, knowledge possessed by all those who speak the language. It is also possible to talk about ‘dead’ languages, e.g., Latin or Sanskrit. However, in such cases we should note that it is the speakers who are dead, not the languages themselves, for these may still exist, at least in part. We may even be tempted to claim an existence for English, French, or Swahili independent of the existence of those who speak these languages.

Wednesday, May 25, 2011

Jandaku

Hidupku tak ada lagi gupalan kesenangan

Malam tak lagi mau beganti siang

Tulang-tulang menumpuk dalam hati

Saat tak lagi ada hati dalam hatiku

Aku tak tahu dari mana asalmu

Dari atas, bawah, depan, belakang, kanan, dan depan

Bahkan aku tak mau lagi peduli

Dari mana hadirmu

Yang kutahu, kau beri indah pelangi di dadaku

Kau hapus semua bimbang dihatiku

Hanya gara-gara sms nyasar

Kau bakar kebekuan hatiku

Bukit-bukit hitam yang mengelilingi hatiku

Perlahan terkikis kuat lembutnya pesona akhlakmu

Akhlak seorang istri yang solehah

Istri yang taat pada suaminya

Memulyakan ayah dan ibunya

Mencintai anaknya

Kau telah merobek dadaku dengan lembut

Kau tuangkan geli keresahan baru di hatiku

Bingung aku

Kau air

Aku mnyak

Kenapa harus begitu?

Apakah air bisa menjadi minyak?

Apakah minyak bisa menjadi air?

Hanya tuhan yang tahu

Tuhan yang pertemukan kita

Perlahan kucoba kepakkan sayapku

Ku ingin terbang jauh darimu

Tapi aku benci jika harus menjauh

Bingung aku

Apakah aku harus mendekat?

Apakah aku harus menjauh?

Kulihat angsa yang putih

Berenang indah dengan kedua anaknya

Aku ingin dekati angsa itu

Walaupun aku tahu angsa itu masih ada pemiliknya

Ternyata angsa yang kuidamkan itu

Sudah janda yang bersuami.

Friday, May 20, 2011

BUNGAKU

Aku terlempar dalam lubang yg dalam dan gelap

Kutemukan bunga yang telah layu di dalamnya

Bunya warna ungu yang tampak lelah dalam kekelaman

Aku bingung, aku seperti orang bodoh

Tak ada setitik cayaha yang mampu menembus kegelapn ini

Aku tak ingin bunga ini mati

Aku ingin sirami dia

Aku ingin berikan dia hangat cahaya

Tapi bagaimana caranya?

Sedangkan aku sendiri tak mampu bangkit dari lubang ini

Aku semakin hilang tenggelam

Apakah aku juga akan layu disini?

Tidak

Aku ingin bawa bunga ini keluar

Siksa bagiku, jika aku hanya bisa diam tanpa luka usaha

Aku sorang laki-laki sejati

Aku tak akan biarkan wajah masa lalu merenggut pesonanya

Sebuah wajah masa lalu yang juga telah mencincang dadaku

Aku rela darahku ini ku peras untuk siraminya

Aku ingin bunga ini tetap hidup

Jika aku tak bisa bawa bunga ini keluar

Maka biarlah akan kugunakan potongan-potongan dagingku

Sebagai pupuk yang akan menyuburkannya

Akan aku buat dia terus hidup dan tumbuh tinggi

Sampai lubang ini tak mampu lagi menguruungnya

Dengan darah dan dagingku, kan ku kembalikan seyumnya.

00.23 16.05.2011 DI KAMAR

Saturday, September 11, 2010

semiotika

Istilah semiologi lebih banyak digunakan di Eropa sedangkan semiotik lazim dipakai oleh ilmuwan Amerika. Istilah yang berasal dari kata Yunani semeion yang berarti ‘tanda’ atau ‘sign’ dalam bahasa Inggris itu adalah ilmu yang mempelajari sistem tanda seperti: bahasa, kode, sinyal, dan sebagainya. Semiotik didefinisikan sebagai teori filsafat umum yang berkenaan dengan produksi tanda-tanda dan simbol-simbol sebagai bagian dari sistem kode yang digunakan untuk mengomunikasikan informasi. Semiotik meliputi tanda-tanda visual dan verbal serta tactile dan olfactory [semua tanda atau sinyal yang bisa diakses dan bisa diterima oleh seluruh indera yang kita miliki] ketika tanda-tanda tersebut membentuk sistem kode yang secara sistematis menyampaikan informasi atau pesan secara tertulis di setiap kegiatan dan perilaku manusia).

Awal mulanya konsep semiotik diperkenalkan oleh Ferdinand de Saussure melalui dikotomi sistem tanda:

· signified

· signifier

· signifie dan significant yang bersifat atomistis.

Konsep ini melihat bahwa makna muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi atau in absentia antara ‘yang ditandai’ (signified) dan ‘yang menandai’ (signifier).Tanda adalah kesatuan dari suatu bentuk penanda (signifier) dengan sebuah ide atau petanda (signified). Dengan kata lain, penanda adalah “bunyi yang bermakna” atau “coretan yang bermakna”. Jadi, penanda adalah aspek material dari bahasa yaitu apa yang dikatakan atau didengar dan apa yang ditulis atau dibaca. Petanda adalah gambaran mental, pikiran, atau konsep. Jadi, petanda adalah aspek mental dari bahasa (Bertens, 2001:180).

Louis Hjelmslev dikenal dengan teori metasemiotik (scientific semiotics). Sama halnya dengan Hjelmslev, Roland Barthes pun merupakan pengikut Saussurean yang berpandangan bahwa sebuah sistem tanda yang mencerminkan asumsi-asumsi dari suatu masyarakat tertentu dalam waktu tertentu.

Semiotik, atau dalam istilah Barthes semiologi, pada dasarnya hendak mempelajari bagaimana kemanusiaan (humanity) memaknai hal-hal (things). Memaknai (to sinify) dalam hal ini tidak dapat dicampuradukkan dengan mengkomunikasikan (to communicate). Memaknai berarti bahwa objek-objek tidak hanya membawa informasi, dalam hal mana objek-objek itu hendak dikomunikasikan, tetapi juga mengkonstitusi sistem terstruktur dari tanda. Salah satu wilayah penting yang dirambah Barthes dalam studinya tentang tanda adalah peran pembaca (the reader).

Konotasi, walaupun merupakan sifat asli tanda, membutuhkan keaktifan pembaca agar dapat berfungsi. Barthes secara lugas mengulas apa yang sering disebutnya sebagai sistem pemaknaan tataran ke-dua, yang dibangun di atas sistem lain yang telah ada sebelumnya. sistem ke-dua ini oleh Barthes disebut dengan konotatif, yang di dalam buku Mythologies-nya secara tegas ia bedakan dari denotative atau sistem pemaknaan tataran pertama.

1. signifier (penanda)

2. signified (petanda)

3. denotative sign (tanda denotatif)

4. CONNOTATIVE SIGNIFIER (PENANDA KONOTATIF)

5. CONNOTATIVE SIGNIFIED (PETANDA KONOTATIF)

6. Connotative Sign (tanda konotatif)

Dari peta Barthes di atas terlihat bahwa tanda denotatif (3) terdiri atas penanda dan petanda. Akan tetapi, pada saat bersamaan, tanda denotatif adalah juga penanda konotatif (4). Jadi, dalam konsep Barthes, tanda konotatif tidak sekadar memiliki makna tambahan namun juga mengandung kedua bagian tanda denotatif yang melandasi keberadaannya. Pada dasarnya, ada perbedaan antara denotasi dan konotasi dalam pengertian secara umum serta denotasi dan konotasi yang dipahami oleh Barthes.

Di dalam semiologi Barthes dan para pengikutnya, denotasi merupakan sistem signifikasi tingkat pertama, sementara konotasi merupakan tingkat kedua. Dalam hal ini denotasi justru lebih diasosiasikan dengan ketertutupan makna. Sebagai reaksi untuk melawan keharfiahan denotasi yang bersifat opresif ini, Barthes mencoba menyingkirkan dan menolaknya. Baginya yang ada hanyalah konotasi. Ia lebih lanjut mengatakan bahwa makna “harfiah” merupakan sesuatu yang bersifat alamiah (Budiman, 1999:22). Dalam kerangka Barthes, konotasi identik dengan operasi ideologi, yang disebutnya sebagai ‘mitos’ dan berfungsi untuk mengungkapkan dan memberikan pembenaran bagi nilai-nilai dominan yang berlaku dalam suatu periode tertentu. Di dalam mitos juga terdapat pola tiga dimensi penanda, petanda, dan tanda. Namun sebagai suatu sistem yang unik, mitos dibangun oleh suatu rantai pemaknaan yang telah ada sebelumnya atau dengan kata lain, mitos adalah juga suatu sistem pemaknaan tataran ke-dua.

Di dalam mitos pula sebuah petanda dapat memiliki beberapa penanda. Berbeda dengan para ahli yang sudah dikemukakan di atas, Charles Sanders Peirce, seorang filsuf berkebangsaan Amerika, mengembangkan filsafat pragmatisme melalui kajian semiotik. Bagi Peirce, tanda “is something which stands to somebody for something in some respect or capacity.” Sesuatu yang digunakan agar tanda bisa berfungsi disebut ground. Konsekuensinya, tanda (sign atau representamen) selalu terdapat dalam hubungan triadik, yakni ground, object, dan interpretant (lihat gambar 3). Atas dasar hubungan ini, Peirce membuat klasifikasi tanda. Tanda yang dikaitkan dengan ground dibaginya menjadi qualisign, sinsign, dan legisign. Qualisign adalah kualitas yang ada pada tanda. Sinsign adalah eksistensi aktual benda atau peristiwa yang ada pada tanda. Sedangkan legisign adalah norma yang dikandung oleh tanda. Peirce membedakan tiga konsep dasar semiotik, yaitu: sintaksis semiotik, semantik semiotik, dan pragmatik semiotik. Sintaksis semiotik mempelajari hubungan antartanda.

Hubungan ini tidak terbatas pada sistem yang sama. Contoh: teks dan gambar dalam wacana iklan merupakan dua sistem tanda yang berlainan, akan tetapi keduanya saling bekerja sama dalam membentuk keutuhan wacana iklan. Semantik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, objek, dan interpretannya. Ketiganya membentuk hubungan dalam melakukan proses semiotis. Konsep semiotik ini akan digunakan untuk melihat hubungan tanda-tanda dalam iklan (dalam hal ini tanda non-bahasa) yang mendukung keutuhan wacana. Pragmatik semiotik mempelajari hubungan antara tanda, pemakai tanda, dan pemakaian tanda. Berdasarkan objeknya, Peirce membagi tanda atas icon (ikon), index (indeks), dan symbol (simbol). Ikon adalah tanda yang hubungan antara penanda dan petandanya bersifat bersamaan bentuk alamiah. Dengan kata lain, ikon adalah hubungan antara tanda dan objek atau acuan yang bersifat kemiripan; misalnya foto.

Indeks adalah tanda yang menunjukkan adanya hubungan alamiah antara tanda dan petanda yang bersifat kausal atau hubungan sebab akibat, atau tanda yang langsung mengacu pada kenyataan; misalnya asap sebagai tanda adanya api. Tanda seperti itu adalah tanda konvensional yang biasa disebut simbol. Jadi, simbol adalah tanda yang menunjukkan hubungan alamiah antara penanda dengan petandanya. Hubungan di antaranya bersifat arbitrer, hubungan berdasarkan konvensi masyarakat. Berdasarkan interpretant, tanda (sign, representamen) dibagi atas rheme, dicent sign atau dicisign dan argument. Rheme adalah tanda yang memungkinkan orang menafsirkan berdasarkan pilihan. Dicent sign atau dicisign adalah tanda sesuai dengan kenyataan. Sedangkan argument adalah yang langsung memberikan alasan tentang sesuatu.

Tuesday, September 7, 2010

Kembalikan Pelacurku

Kembalikan Pelacurku



Hilang....

Tak ada lagi

Dan tak kan kembali

Pelacurku terenggut


Terjamah dan terjajah

Tertarik dan didorong sampai lunak

Tak ada lagi hiburanku

Tak ada lagi di pelukanku


Dia telah hilang

Dia telah hancur

Di tanganmu, di kakimu, di mulutmu, di matamu, dan di otakmu

Kembalikan perawannya pelacurku


Untuk indonesiaku yang terlacur

3 September 2010

23 Ramadhan 1431

Monday, March 1, 2010

Thursday, February 25, 2010

HIDUP TANPA MATAHARI

Kini aku sendiri
Dalam kegelapan yang membalut jiwa
Sang matahari kini telah pergi
Tiada lagi sinar kehangatan dalam diri
Tiada warna lagi
Tiada gairah lagi
Sang waktu pun seolah malas untuk beranjak
Ia hanya merangkak pelan sesak dalam dada
Kini aku hidup dalam sepi
Kini aku hidup dalam kebekuan hati
Hidup tanpa matahariku lagi
Hidup dalam kegelisahan diri
Hidup seolah mati

Untuk matahariku yang telah pergi
23 Pebruari 2010

Wednesday, September 2, 2009

SASTRA KORAN

Di Gerbong Kereta

Cerpen Rama Dira J
Dimuat di Suara Pembaruan 08/30/2009

Stasiun kereta itu, di suatu siang milik bulan Juni, diliputi kesenyapan yang misterius. Hanya sedikit manusia yang tampak dan mereka ini, berjalan dengan gerak tubuh dan langkah tak bergairah. Ada seorang bocah penjual koran yang duduk terkantuk-kantuk di sampingku tanpa pernah menawarkan koran-koran jualannya. Seorang petugas kebersihan berbaring di sebuah bangku kayu sambil merokok. Ia pun tertidur beberapa saat kemudian dengan rokok yang tetap berbara di tangan dan sapu lidi dalam pelukan.

Panas yang ada, demikian keparatnya hingga tubuhku basah berpeluh dan suasana hatiku merunyam. Mulutku mengering, setandus padang gurun. Sialnya, tak ada orang yang berjualan minuman.

Apa aku terkurung di dalam mimpi? Rasa-rasanya tak mungkin juga sebab luka nyeri di sikutku masih mengeluarkan darah sehabis menghantam besi pegangan waktu berdesakan turun dari bus kota yang membawaku ke stasiun ini. Meski bukan dalam mimpi, dunia yang menjebakku kini, terasa tak lebih baik dari mimpi buruk siang hari.

Menunggu kereta dalam keadaan seperti ini telah menjadi siksaan yang bisa saja membuatku mati berdiri. Waktupun bersekongkol dengan semesta, mempermainkanku. Kini, waktu terasa begitu lamban, seolah-olah tak beranjak sedikit pun. Kini, kuanggap jam antik peninggalan Belanda yang terpampang di atas loket pembelian tiket itu sebagai makhluk aneh yang setiap detik demi detiknya menjelma tawa-tawa yang merayakan dengan penuh sukacita nasibku yang mengenaskan.

Di ujung penantian yang terasa panjang, dari arah timur, muncul kereta api Gundala Putra Petir, dalam gerak lamban disertai siulan melengking menyayat-nyayat hati. Adakah lengkingan kepedihan itu berhubungan dengan usia lokomotifnya yang sudah sekarat?

Kereta tua jurusan Kota M - Kota L itulah yang kutunggu-tunggu. Ketika telah berhenti sempurna, hanya satu dua penumpang yang melompat keluar dari dalamnya. Aku bergegas melompat masuk, meninggalkan suasana yang nyaris menyihirku menjadi sesosok manusia yang mati berdiri ala nabi, tapi bukan nabi sebab kalau pun itu terjadi aku tetaplah manusia biasa yang lenyap dari sejarah hidup sendiri tanpa sempat meninggalkan jejak-jejak yang patut dikenang.

Keadaan seperti dalam mimpi buruk itu telah pula merasuk hingga ke dalam gerbong kereta. Di sini, hampir tak ada denyut kehidupan dan tak kulihat keberadaan manusia lain di gerbong yang kupilih ini. Aku kembali seperti satu-satunya makhluk yang tersisa di dunia dimana penghuninya sudah punah.

Sadar akan adanya kenyataan tak banyak manusia yang menunggu kedatangan kereta ini, masinis segera memberangkatkannya. Mulailah si kereta tua beranjak meninggalkan stasiun di kota kecil, dalam suatu irama pelan yang secara bertahap berubah cepat, kemudian melanjut mantap.

Aku menyaksikan tiang-tiang di peron seperti bergerak ke belakang. Setelah itu, hamparan persawahan juga terhempas ke belakang, batang-batang tebu lenyap ke belakang. Juga candi-candi dengan latar perbukitan, kemudian deretan rumah-rumah kecil berkapur putih, beratap genteng. Semuanya bergerak ke belakang, terhempas, terkurung dalam detik demi detik yang telah menjadi bagian dari masa lalu. Andai saja perasaanku bisa seperti itu, terhempas ke belakang, terkurung dalam masa lalu, tentu tak ada kerunyaman yang teramat.

Suasana aneh yang terus menerorku sedari tadi pecah begitu saja ketika kulihat seorang gadis berdandan menor, memakai baju kaus ketat yang tak menutup pusat, rok mini di atas lutut serta sepatu kulit sampai di lutut. Ia berjalan dari arah gerbong belakang, menuju ke arahku dan berhenti di dekatku untuk kemudian duduk dengan menyilangkan paha kanannya di atas paha kiri, di kupe yang ada di hadapanku. Meski sudah terbiasa berurusan dengan perempuan seperti ini, sempat juga aku disinggapi keterkejutan.

"Saya merasa aneh duduk sendirian di gerbong sebelah." Ia menjelaskan alasan mengapa ingin duduk berkawan. Dari bahasa tubuhnya, tampak jelas jikalau perempuan ini agresif. Bermandikan parfum murahan yang begitu menyengat, ia tampil percaya diri dan tak canggung mendekat pada seorang laki-laki yang belum ia kenal sama sekali. Dengan demikian, aku sudah bisa menebak penampilannya yang demikian, sangat berhubungan dengan profesinya.

"Siang yang sepi," komentarnya tiba-tiba sambil mengembuskan asap rokok keretek yang barusan ia nyalakan.

"Kau juga merasakannya?" kutanya ia.

"Ya, sepi karena tak banyak laki-laki yang kutemui. Hanya ada satu dua. Itu pun tak ada yang peduli dengan tawaranku yang seharusnya tak bisa mereka tolak. Mulai dari alun-alun sampai stasiun, itu yang terjadi. Makanya aku ikut kereta ini ke kota sebelah buat mencari laki-laki lain. Tahu 'kan maksudku?"

Aku hanya mengangguk beberapa kali, tak langsung menanggapinya dengan perkataan. Sesungguhnya, aku bukannya tak paham jika ia sengaja melontarkan itu dalam upaya memancingku menggunakan jasanya. Aku memang tak asing dengan situasi seperti ini. Aku sering memakai jasa gadis seperti ini. Jujur kukatakan, memang sudah lama aku tak menyentuh perempuan. Kira- kira empat bulan. Ini terjadi karena pekerjaanku telah menyita hampir semua waktu dan pikiranku akhir-akhir ini.

Dengan demikian, perempuan ini hadir pada saat yang tepat sebenarnya. Selain butuh hiburan untuk menghalau tekanan batin yang kualami dalam minggu-minggu ini, rangkaian suasana aneh beberapa waktu tadi juga memerlukan sesuatu yang menyegarkan. Dan tampaknya, perempuan belia ini siap menghadirkannya untukku.

Kuperhatikan benar, meski penampilannya tak lebih bagus dari gadis-gadis dalam profesi yang sama, gadis ini memiliki daya tarik tersendiri. Selain berbodi bagus, ia juga lumayan cantik, meski make up-nya berlebihan. Ia pun memiliki senyuman yang menegaskan kalau ia bisa mendatangkan kesejukan pada lelaki mana saja. Gara-gara ini, mendadak perasaan suntuk dan runyamku jadi hilang.

"Kau bisa menemaniku nanti?" tanyaku.

"Tentu" jawabnya.

"Baiklah. Nanti sampai di kota sebelah, kau ikut saja ke rumahku. Aku minta kau temani selama dua hari. Bagaimana?"

"Okelah. Tapi kalau memang kau tak sabar lagi, kita bisa memulainya di kereta ini. Aku mengenal kondekturnya. Ia tak akan mempermasalahkan jika kita bercinta di toilet kereta ini."

Aku hanya menggeleng lantas tertawa kecil menanggapi ide gilanya itu.

"Ah, tidak. Aku masih bisa menahan."

"Sumpah! Aku sudah biasa melakukannya di kereta ini."

"Aku yang tidak biasa."

"Ayolah. Kau akan menikmatinya."

"Tidak.Tidak. Nanti saja. Di rumahku."

"Okelah."

Akhirnya, dia menyerah. Aku jadi bertanya-tanya sendiri, mengapa ia begitu bernafsu mengajakku bercinta di dalam kereta ini? Apakah pekerjaannya itu telah menyulapnya menjadi perempuan penggila seks?

Tak seperti biasanya, kini, meski perjalanan kereta sudah jauh, tak muncul-muncul kondektur yang biasanya memeriksa tiket penumpang. Mungkin karena kereta ini hanya berisi sedikit penumpang, ia jadi bermurah hati untuk tidak memedulikan apakah ada penumpang yang tidak memiliki tiket, sebab hal tersebut tak terlalu berpengaruh pada permasukan mereka.

Kini, kehadiran si menor menyadarkanku bahwa kiamat masih jauh. Di siang keparat ini ternyata aku bisa bertemu dengannya, sebagai pembawa kece-riaan yang sanggup melenyapkan segala macam beban dan perasaan yang bisa saja membunuhku secara mendadak.

Ia menanyai keperluanku mengunjungi kota ini setelah mengetahui aku tinggal di kota sebelah.

"Aku mengurusi orang miskin."

"Memangnya Anda orang kaya? Kok pake ngurusin orang miskin segala?"

"Aku bekerja di sebuah LSM yang konsen memperjuangkan nasib orang miskin di dua kota. Karena itu, aku harus bolak-balik antara Kota M dan Kota L."

"Oh, begitu..."

Kami masih berbincang kala kereta melambat untuk kemudian berhenti di salah satu stasiun yang lebih kecil lagi dibanding stasiun sebelumnya. Sama seperti stasiun sebelumnya, stasiun ini juga sepi. Hanya ada seorang bocah penjual air mineral yang naik. Karena masih haus, langsung saja kupanggil bocah itu. Ia memberikan botol air mineral seukuran satu liter padaku. Ketika tanganku tak menemukan dompet di saku belakang jinsku, aku mulai panik.

"Sial!" Aku menyerapah. Sepertinya, ada yang mencopet dompetku dalam bus.

Tanpa kuminta, si gadis menor sudah menyodorkan bayaran kepada si bocah penjual air mineral. Ia menyelamatkanku untuk kedua kalinya siang ini.

"Terima kasih."

"Santai saja."

Stasiun yang berdiri senyap itu terhempas ke belakang dan aku sudah tak memusingkan dompetku yang hilang tadi. Dalam interaksi intens selanjutnya, suasana yang menyenangkan antara kami membuatku menyadari bahwa keberadaan gadis ini membuatku berdebar. Tiba-tiba saja ada keinginan untuk segera sampai di rumah dan bercinta dengannya. Keinginan yang mendadak menyerangku ini membuatku mempertimbangkan kembali ajakannya bercinta di dalam toilet kereta ini. Pikiran kotorku terus mengalir dan terhenti kala kereta berhenti lagi di stasiun kecil lainnya.

Awalnya, seperti dua stasiun sebelumnya, stasiun yang satu ini juga sepi. Namun, hanya dalam hitungan detik semata, tiba-tiba saja peron stasiun sudah penuh dengan manusia yang datang dari pintu masuk, seolah baru dimuntahkan begitu saja dari mulut naga. Rombongan itu langsung masuk ke dalam gerbong. Dan anehnya, ada seorang perempuan tua berambut gimbal yang tiba-tiba memintaku pindah ke lain tempat. Ia ingin duduk di samping si gadis.

Perempuan tua berambut gimbal itu mengatakan dengan suara yang begitu kerasnya pada si gadis bahwa kecuali dia, para penumpang yang baru saja naik tadi adalah lelaki semua. Katanya lagi, ia trauma duduk di samping lelaki, sebab sudah sering kali ternyata laki-laki yang di sampingnya adalah pencopet. Mendengar itu, si menor tersenyum sambil melirik memberi tanda padaku dan aku akhirnya mengalah dengan berpindah ke kupe yang lain. Diam-diam aku berpikir, mengapa perempuan tua itu begitu tega mencurigaiku juga sebagai tukang copet, padahal aku sendiri baru saja kecopetan.

Kereta kembali berjalan. Aku tak lagi bisa berbincang dengan si gadis menorku. Dan rencanaku untuk mengajaknya masuk ke toilet tak bisa terwujudkan karena perempuan tua itu terus saja bercerita padanya dengan suara yang teramat bising.

Kereta terus melaju dalam iringan omelan membosankan milik perempuan tua itu. Mendadak, suasana itu mendatangkan rasa kantuk yang begitu hebat pada mata kanan kiriku. Beberapa saat kemudian, kereta masuk dalam terowongan gelap yang sangat, sangat panjang. Dan, pada detik yang tak kuingat, aku jatuh tertidur dalam nyenyak yang juga terasa sangat, sangat panjang.

Susah payah, aku berusaha mengutuhkan kesadaran setelah sebuah tangan menggoyang-goyang halus pundakku. Suara mudanya mengutuh sedikit demi sedikit. "Pak Tua, bangun. Semua penumpang sudah turun."

Aku menggosok-gosok mata dengan punggung tanganku. Ternyata, dia gadis belia dengan dandanan menor. Apakah dia temanku bercakap-cakap dalam perjalanan tadi? Tapi, mengapa ia memanggilku dengan panggilan Pak Tua? Ataukah ia gadis lain dalam waktu yang lain? Sudah berapa lamakah aku tertidur? Entahlah. Aku sudah payah dengan hitungan dan ingatan.

Gadis menor itu sudah melompat ke luar melalui pintu gerbong. Susah payah, aku berusaha bangkit. Dengan tongkat di tangan kiri, aku menuruni tangga gerbong, melangkah perlahan, melintasi peron, pelataran parkir stasiun, terus berjalan terbungkuk-bungkuk ke halte jalan raya guna menunggu bus yang akan membawaku pulang ke panti jompo, di ujung kota.***

Tarakan, 31 Juni 2009